Minggu, 14 Desember 2014

RENUNGAN UNTUK SUAMI ISTRI

Renungan untuk Suami dan Istri

Seorang dosen mengadakan permainan kecil kepada mahasiswanya yg sudah berkeluarga & meminta 1 orang maju ke papan tulis.

Dosen : “Tulis 10 nama yg paling dekat dgn anda.”

Lalu mahasiswa tsb menulis 10 nama. Ada nama Tetangga,Orang tua,Teman kerja,Istri,Anaknya dsb.

Dosen : “sekarang silahkan pilih 7 diantaranya yang sekiranya anda ingin hidup terus bersamanya”.

Lalu mahasiswa itu mencoret 3 nama.

Dosen : “coret 2 nama lagi”, dan tinggallah 5 nama.
Dosen : “coret lagi 2 nama”, maka tersisalah 3 nama yaitu : Orang tua,Istri & Anaknya.

Suasana kelas hening. Mereka mengira smua sudah selesai & tak ada lagi yg harus dipilih.

Tiba-tiba Dosen berkata :”silahkan coret 1 nama lagi !”, mahasiswa itu pun prlahan mngambil pilihan yg amat sulit lalu mencoret nama orang tuanya secara perlahan.

Dosen :”silahkan coret 1 nama lagi !”. Hati sang mahasiswa menjadi bingung. Kemudian mengangkat kapur & lambat laun mencoret nama anaknya dan mahasiswa itupun menangis.

setelah suasana tenang sang Dosen bertanya pada Mahasiswa itu. “Kau tidak memilih Orang tua yg membesarkanmu ? tidak juga memilih Anak yang berasal dari darah dagingmu? sedang Istri itu bisa dicari lagi.”

Smua orang di dalam kelas terpana mnunggu jawaban dari Mahasiswa itu.

Lalu sang Mahasiswa itu berkata, “Seiring waktu berlalu, Orang tua saya akan pergi & meninggalkan saya, sedang Anak jika sudah dewasa menikah lalu pergi meninggalkan saya juga. Sedangkan yg benar-benar menemani saya dalam hidup ini hanyalah ISTRI saya. Orang tua & anak bukan saya yg memilih, tapi Tuhan yang menganugerahkan, sedang ISTRI, sayalah yg memilih dan dengan izinNya. istri adalah bagian dari diriku, karena dia adalah tulang rusukku…..

* Bukan berarti anak dan orang tua adalah tidak penting tapi untuk merubah pandangan bahwasanya kita harus selalu menghargai pasangan, saling menyayangi, menerima apapun kelebihan dan kekurangan pasangan kita.

Rabu, 10 Desember 2014

MENENTUKAN PERILAKU ANAK

5 PERILAKU BUNDA HAMBAT TUMBUH KEMBANG ANAK :

1.MEMBUAT SEGALANYA MUDAH UTK ANAK

Seorg psikolog Madeline Levine mengatakan bahwa kita perlu mmbiarkn anak terjatuh agar bisa belajar jalan dg kaki mereka sendiri. Dan "peraturan" ini pun sebaiknya tetap digunakan dlm berbagai hal lainnya. Saat anak kalah dlm perlombaan atau mndpt nilai buruk, berikan semangat dan sampaikan bahwa kegagalan itu hanya bagian dr proses utk sebuah keberhasilan nantinya. Siapkan anak mulai sejak dini utk bs menerima kenyataan ttg manis dn pahitnya kehidupan yg nantinya akan mereka hadapi.

2. KOMENTAR NEGATIF

Menghakimi atau memberikan komentar negatif pd anak bisa sangat berbahaya bagi perkembangannya di masa yg akan dtng. Jika org tua sdh sering memberikan komentar negatif kpd anaknya, maka kepercayaan diri sang anak bisa menurun secara drastis.

3. MEMUJI BERLEBIHAN

Menurut penelitian yang dilakukan di Stanford University, anak usia 1-3 tahun yg mndptkn pujian atas usaha yg mereka lakukan dan bukan atas bakat yg mereka miliki, lima tahun kemudian mereka bisa lebih mudah menghadapi tantangan dan memiliki motivasi yg lebih tinggi. Org tua sebaiknya tak memuji anak secara berlebihan. Pujilah anak atas usaha yg telah mereka lakukan bukan sebatas hanya pada kata-kata "pintar," "cantik", dan sebagainya.

4. TAK MEMBIARKAN ANAK MENGHADAPI RESIKO

Belajar mengambil risiko itu sama dgn belajar utk mndptkn kepercayaan diri dan belajar tentang batasan yg dimiliki. Biarkan anak2 bermain dengan leluasa diluar (tapi tetap dlm pengawasan yg aman) spy mereka bisa mengeksplorasi diri mereka dan belajar utk menghadapi risiko yg mereka hadapi.

5. SELALU MEMENUHI PERMINTAAN ANAK

Banyak orang tua yg lebih suka ambil praktisnya saja ketika anaknya mulai rewel. Saat anak rewel meminta sesuatu misalnya,jgn langsung mmberikn apa yg ia minta. Jika Anda terbiasa langsung mmberikn apa yg anak Anda minta ketika ia rewel maka anak akn memiliki pemahaman bahwa ia bisa mndptkn apapun yg ia minta dgn sedikit tangisan dan rewel.

Masa Depan Anak Anda Ada Di Tangan Anda Sendiri...
Semoga Bermanfaat..!!!

Jumat, 05 Desember 2014

Hakikat Menbaca

PANDUAN PRAKTEK BAHASA INDONESIA JURUSAN D IV KEPERAWATAN DAN POLITEKNIK TERNATE MALUKU UTARA TAHUN 2014
PANDUAN PRAKTEK BAHASA INDONESIA

Hakikat Membaca Godman (1967:127) meyatakan bahwa membaca adalah suatu kegiatan memetik makna atau pengertian yang bukan hanya dari deretan kata yang tersurat (reading the lines), melainkan makna dibalik deretan yang terdapat diantara baris (reading between the lines), bahkan juga makna yang terdapat dibalik deretan baris tersebut (reading beyond the lines). Menurutnya kegiatan  membaca ini merupakan suatu proses yang aktif dan tidak lagi merupakan proses yang pasif, membaca merupakan proses yang aktif dan bukan proses yang pasif  artinya seorang pembaca harus dengan aktif berusaaha menagkap isi bacaan yang dibacanya tidak boleh hanya menerima saja. Standar Kecepatan Membaca Ahmadslamet Harjasujana (1988;24) kecepatan yang dicapai oleh pembaca berdasarkan rumus banyak jumlah kata dibagi panjang waktu yang diperlukan, diperbanyak dengan prosentase skor yang diperoleh. Sedangkan kemampuan membaca ialah kecepatan membaca dan pemahaman isi secara keseluruhan, jadi ada dua aspek yang diperhatikan dalam kecepatan membaca, yaitu kecepatan membaca dan pemahaman membaca. Secara umum, kecepatan membaca seseorang meningkat seiring perkembangan usia, tingkat pendidikan, kosakata yang diperoleh dan intensitas membaca. ( depdikbud 2006: 9) dijelaskan bahawa untuk standar kecepatan membaca pada siswa sekolah dasar  memiliki  kecepatan membaca minimal 75 kata per menit. Sedangkan untuk jenjang SD, Christine Nuttal, (dalam Lilis Sulistianingsi, 1998) merincinya sebagai berikut :

Kelas Kecepatan Membaca   I II III IV V VI 60-80 kata per menit 90-110 kata per menit 120-140 kata per menit 150-160 kata per menit 170-180 kata per menit 190-250 kata per menit  Standarisasi di atas, hanya untuk satu aspek kemampuan pemahaman membaca, yaitu kecepatan membaca pada setiap menitnya. Untuk menentukan KEM (Kecepatan Efektif Membaca) sebagaimana diuraikan di atas, maka perolehan ukuran kpm tersebut hendaklah diikuti oleh pemahaman isi bacaan. Mengenai hal ini Nurhadi, (1987: 40) mengatakan, kecepatan membaca biasanya diukur dengan beberapa banyak kata yang terbaca pada setiap menitnya dengan pemahaman rata-rata 50% atau dengan perkataan lain berkisar antara 40% - 60%. Pada taraf pemahaman semacam itu, kecepatan membaca yang diukur dianggap sudah memadai. Senada dengan pernyataan di atas, menurut Nurhadi (1991:229), standar kecepatan membaca yang memadai untuk seluruh jenjang pendidikan adalah sebagai berikut. SD/SMP            :  200 kata per menit SMA           :  250 kata per menit Mahasiswa           :  325 kata per menit Mahasiswa Program Pascasarjana: 400 kata per menit Orang dewasa : 200 kata per menit Menurut Wiryodijoyo, (1989:130) menyatakan bahwa kemampuan membaca pada setiap orang berbeda. Kemampuan membaca ini umumnya berkisar antara 200-800 kata per menit. Kecepatan ini pun pada seseorang tidak selalu tetap, tergantung jenis bacaan yang dibaca. Membaca buku teks bisa dengan kecepatan 200 kata per menit, membaca novel bisa dengan kecepatan 250 atau 300 kata per menit. Sedangkan membaca ulang buku teks lebih cepat dilakukan dari membaca yang pertama. Menurut Harjasujana (1996:72) pembaca yang efektif mempunyai kecepatan membaca yang fleksibel sesuai dengan tujuan membacanya, hal dapat dilakukan berdasarkan rincian rata-rata kecepatan membaca yang disesuaikan dengan keperluan membaca, sedangkan Kristine Nuttal (1989:216) merincikan standar kcepatan membaca dapat diuraikan sebagai berikut.

Untuk siswa SD dituntut kecepatan membacanya adalah:

Kelas satu60-80 kata permenit, kelas dua 90-110 kate permenit,
kelas tiga 120-140 kata permenit, kelas empat 150-160 kata permenit, kelas lima 170-180 kata permenit, dan kelas enam 190-250 kata permenit.

Mengukur Kecepatan Membaca Christine Nutal (1989:17) mengatakan bahwa cara mengukur kecepatan membaca adalah dengan cara menghitung jumlah kata yang terbaca setiap menit, Sedangkan menurut Harjasujana (1996:55) cara mengukur kecepatan membaca adalah dengan cara membagi jumlah kata yang dibaca dengan waktu tempuh baca dikali dengan 60. Misalnya seseorang dapat membaca sebanyak 2.000 kata dalam waktu lima menit artinya kecepatan membacanya adalah 400 kata per menit. Untuk mengukur kecepatan membaca menurut Soedarso (2002:14), dapat digunakan rumus berikut.  Andaikata anda membaca 1.6000 kata dalam tiga menit dan 20 detik atau total 200 detik, maka kecepatan anda adalah:

 Untuk menghitung jumlah kata dalam bacaan yang anda baca hitung jumlah kata dalam lima baris dahulu lalu bagi lima. Hasilnya merupakan jumlah rata-rata perbaris dari bacaan itu lalu hitung jumlah baris yang yang and abaca, dan kalikan dengan jumlah rata-rata, hasilnya merupakan jumlah kata yang and abaca misalnya Jumlah kata perbaris rata-rata =  11 Jumlah baris yang and abaca    =  60 Jumlah kata yang and abaca     = 11 x 60 = 660 kata. Jika anda membaca dalam 2 menit dan 10 detik, atau total 130 detik maka kecepatan anda (660 kata/130 detik) x 60 =342 kata permenit. Soedarso, (2004,14) Untuk mengetahi kecepatan membaca anda, maka sebelum anda mulai membaca, catat dahulu waktu mulai membaca, dan setelah anda menyelesaikan bacaan itu segera lihat jam anda dan catat setepat-tepatnya. Lalu anda hitung. Berapa menit dan detik. Kemudian diteruskan pemahaman anda dengan cara menjawab pertanyaan-pertanyaan yang yang telah tersedia. Terkait dengan  keceptan membaca, Nuttal (1982:36) menyatakan bahwa untuk mengukur kecepatan membaca siswa, pilih sebuah teks bacaan yang belum pernah dibaca oleh pembaca yang bersangkutan dan tidak sulit bagi siswa tersebut, kemudian  sebelum membaca berikan kesempatan siswa untuk menghitung jumlah kata di dalam teks bacaan tersebut. Setelah itu, berikan teks pada siswa dan mereka mulai membaca. Selanjutnya, hitung kecepatan membacanya dengan cara sebuah persamaan sederhana berikut.  Keterangan: x, adalah jumlah kata dalam teks y, adalah jumlah waktu yang dibutuhkan untuk membaca teks tersebut 6, adalah jumlah interval 10 detik dalam semenit z, adalah kecepatan membaca kata-kata permenit. Sebagai cintoh : Jika teks berisi 250 kata dan waktu yang dipakai untuk membacanya adalah 80 detik artinya, interval 8 detik, maka kecepatan membaca adalah sebagai berikut.  Mengukur Kemampuan Membaca Tampubolon (1990:7), menyatakan bahwa kemampuan membaca adalah kecepatan dalam membaca disertai dengan pemahaman. Oleh karena itu, selain kecepatan membaca, pemahaman juga harus diukur.Mengukur pemahaman isi bacaan (PI) secara keseluruhan dengan cara menghitung persentase skor jawaban yang benar atas skor jawaban ideal dari pertanyaan-pertanyaan tes pemahaman bacaan. Prosesnya dapat digambarkan sebagai berikut: PI = x 100 Untuk mengukur KEM seseorang, kedua aspek tersebut harus diintegrasikan. Menurut D. P. Tampubolon (1990), hal itu dapat dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut : KM =  KPM Keterangan: KM = kemampuan membaca KB = jumlah kata yang terdapat dalam bacaan SM = jumlah skor membaca KPM = jumlah kata per menit PI = persentase pemahaman isi Berbeda dengan Tampubolon, Ahmadslamet Harjasujana, (1988) mengajukan rumus kemampuan membaca sebagai berikut : KEM =  Keterangan: p = jumlah kata yang terdapat dalam bacaan q = jumlah waktu dalam hitungan detik r = jumlah jawaban yang benar                    Kegiatan Latihan Hidupkan Tape Ikuti petunjuk yang diberikan kaset dengan baik Sekaligus kaset dapat didengarkan bersama-sama, tetapi lembarkerja harus dimiliki dan dikerjakan secara individu. Lakukanlah aktivitas belajar sesuai dengan instruksi yang diberikan kaset. Saudara mahasiswa, apakah anda telah memahami penjelasan di atas? Kalau sudah marilah kita berlatih membaca alinea sekaligus menguji kemampuan membaca cepat kita, selanjutnya hidupkan tape!  Simak dan ikuti instruksi dengan cermat instruksi yang disampaikan melalui kaset Selamat mendengarkan dan semoga sukses